Jumat, 12 Desember 2014

FUNGSI MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN ISLAM






TUGAS KELOMPOK                                                    DOSENPEMBIMBING 
Sejarah Pemikiran PAI                                                        Taufik Helmi, MA

FUNGSI MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN ISLAM

DISUSUN OLEH :
LENI HERMAYENTI
KHOIRUZZAMAN
AINUDDIN
SRI MURNIATI
ELI SUTRA
SEMESTER IIIB
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DINIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) TAHUN 2014 H/1436 H


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat dan karunia yang diberikannya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah “Sejarah Pemikiran Pendidikan Agama Islam” ini.
            Solawat dan salam kita sampaikan kepada Muhammad SAW. Dan keluarga beliau. Semoga syafaatnya kita dapatkan di yaumil akhir nanti. Amin
            Penulis menyadari berbagai kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga mungkin ada kekeliruan dan kekurangan dalam penyajian dan kekurangan Makalah ini. Oleh karena itu, penulis dengan terbuka dan mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa. Amin.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A.    Latar Belakang................................................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah............................................................................................................ 1
C.     Tujuan.............................................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................... 2
A.    Pengertian........................................................................................................................ 2
B.     Madrasah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam.................................................. 2
C.     Funsi Madrasah Dalam Mentranmisikan Ilmu Pengetahuan Agama............................... 4
D.    Peranan Ulama Dalam Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Islam................................. 5
BAB III PENUTUP.............................................................................................................. 7
A.    Kesimpulan...................................................................................................................... 7
B.     Saran................................................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................... 8





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Membicarakan pendidikan Islam tidak akan pernah ada habisnya. Demikian, karena proses pendidikan Islam telah, sedang dan akan terus berjalan mengikuti perkembangan zaman. Begitulah pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang. Dalam pengertian yang seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam sejarah masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan merupakan transpormasi besar. Sebab pada dasarnya masyarakat Arab pra Islam tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan lebih bersifat informal, dan ini pun lebih berkaitan dengan upaya dakwah islamiyah, penyebaran dan penanaman dasar kepercayaan dan ibadah lain.
Proses pembelajaran agama Islam pada saat itu diselenggarakan di rumah-rumah sahabat tertentu dan yang paling terkenal adalah Darul Arqam. Namun ketika masyarakat Islam telah terbentuk, maka proses pembelajaran agama Islam diselenggarakan di masjid yang dikenal dengan bentuk halaqah. Kebangkitan madrasah merupakan awal dari bentuk perkembangan Islam secara formal.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Madrasah
2.      Apa fungsi Madrasah dalam mengembangkan ilmu pendidikan

C.    Tujuan
1.      Menyelesaikan tugas kelompok
2.      Mengetahui apa yang dimakdud dengan madrasah
3.      Mengetahui fungsi Madrasah dalam mengembangkan ilmu pendidikan




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Kata madrasah diambil dari akar kata darasa yang berarti belajar. Madrasah adalah isim makan dari kata ini sehingga berarti tempat untuk belajar. Istilah madrasah sering diidentikkan dengan istilah sekolah atau semacam  bentuk perguruan yang dijalankan oleh sekelompok atau institusi umat Islam (Zaki Badawi, 1980:229). Kata “Madrasah” berasal dari bahasa Arab sebagai keterangan tempat (dzaraf), dari akar kata : “Darasa, Yadrusu, Darsan, dan Madrasatan”. Yang mempunyai arti “Tempat belajar para pelajar” atau diartikan “jalan” (Thariq), misalnya : diartikan : “ini jalan kenikmatan”. Sedangkan kata “Midras” diartikan “buku yang dipelajari” atau “tempat belajar”Dalam bahasa Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti  bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran. Dari  pengertian di atas maka jelaslah bahwa madrasah adalah wadah atau tempat  belajar ilmu-imu keislaman dan ilmu pengetahuan keahlian lainnya yang  berkembang pada zamannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah madrasah bersumber dari Islam itu sendiri.
B.     Madrasah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam

1.      Madrasah pada Masa Dinasti Umayyah di Spanyol
Kurikulum madrasah di masa klasik, tidak banyak menawarkan mata pelajaran yang bermacam-macam. Dalam suatu jangka waktu, pengajaran hanya menyajikan satu mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa. Sesudah materi tersebut selesai, baru diperbolehkan mempelajari materi yang lain atau yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, pada tahap awal siswa diharuskan belajar baca tulis, berikutnya ia belajar berhitung dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena belum adanya koordinasi antar lembaga-lembaga dengan pemerintah seperti pada saat ini. Meskipun pada kasus tertentu penguasa turut mengendalikan pelaksanaan pengajaran di madrasah-madrasah sedangkan proses belajar mengajar sepenuhnya tergantung kepada guru yang memberikan pelajaran.
Spanyol adalah negeri yang subur. Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan), al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
2.      Madrasah pada Masa Dinasti Abbasiyah
Keadaan yang sama juga meliputi pendidikan tinggi di wilayah Dinasti Abbasiyah. Sejarah mencatat bahwa kemajuan Islam zaman klasik dalam keilmuan mencapai puncaknya pada zaman Dinasti Abbasiyah khsususnya masa kekhalifahan Al-Ma'mun. Seluruh lembaga menawarkan pendidikan univesitas dalam cakupan yang lebih luas, seperti bahasa Arab, astronomi, kedokteran, hukum, logika, metafisika, aritmetika, pertanian dan lain-lain. Namun seiring dengan berdirinya madrasah, perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan mengalami penurunan ketika mu'tazilah yang semula menjadi madzhab resmi negara dibatalkan oleh Mutawakkil. Ketika madrasah mulai berdiri, ternyata perkembangan itu tidak menggunakan madrasah sebagai media tranmisi, bahkan filsafat dan ilmu pengetahuan itu dipelajari secara individual dan mungkin di bawah tanah, karena dikawatirkan mengganggu supremasi ilmu-ilmu agama. Sehingga pada saat itu terdapat beberapa mudarris yang menawarkan program studi khusus dan lain-lain. Kekhususan itu dapat dilihat dari nama sekolahnya. Misalnya madrasah Nahwiyah, sebagai lembaga yang mengkhususkan diri dalam studi Islam tentang gramatikal bahasa Arab. Atau ada juga madrasah Qur'aniyah yang mengkhususkan pendidikan Al-Qur'an dengan saja.
Biasanya madrasah mempunyai perpustakaan yang tergabung dalam bangunan yang sama, walaupun perpustakaan telah lama terdapat di istana dan rumah-rumah bangsawan dan hartawan, perpustakaan sebagai bagian dari madrasah adalah hal yang jarang. Untuk menyediakan manuskrif bagi mahasiswa, madrasah mencontoh praktek halaqah-halaqah gerakan nasional yang telah terpenuhi oleh budaya Hellenistik dan berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah. Tersedianya berbagai karya bukan hanya sekedar buku-buku pelajaran, meningkatkan belajar mahasiswa dengan memperkenalkan mereka kepada bermacam-macam pandangan dan juga kepada sejumlah tulisan tidak hanya sekedar kebutuhan langsung perkuliahan.
Madrasah yang didirikan Nizham Al-Mulk merupakan salah satu penyebab perkembangan ilmu pengetahuan menjadi begitu cepat. Abu Usamah menulis: "sekolah-sekolah Nizham Al-Mulk termasyhur di dunia. Tidak ada satu negeri pun yang di situ tidak berdiri Nizham Al-Mulk.
Demikianlah Nizhamiyah memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu aritmetika misalnya, sedangkan madrasah-madrasah yang lain mengajarkan ilmu nahwu, tafsir, hadits, fiqh, bahkan ada pula yang mengajarkan ilmu kedokteran. Walau pun memang secara umum madrasah-madrasah mengajarkan ilmu keislaman. Seperti terlihat dari topik-topik utama dalam kurikulum mereka mempelajari Al-Qur'an, fiqh, teologi dan lain-lain.
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa Nizhamiyah mempunyai potensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dengan memperhatikan kepada pengajaran aritmetika, seperti juga terdapat di madrasah Muntansyiriyah. Hal ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena dahulu mereka tidak menyukai ilmu-ilmu seperti itu, tetapi pada gilirannya ternyata ilmu tersebut mereka butuhkan. Bahkan, ditemukan sebuah masjid dan madrasah yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan Yunani, misalnya masjid Mustansyiriyah di Baghdad yang telah mengajarkan ilmu-ilmu murni, seperti obat-obatan, farmasi dan geometri.
3.      Madrasah Akhir Periode Klasik Islam
Ba'da berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai mengalami masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan ini bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan kemajuan di bidang ilmu dan tekonologi itulah yang mendukung keberhasilan politik Eropa. Kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan Islam di Spanyol. Dari Spanyol itulah Eropa banyak menimba ilmu.
Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan peradaban Islam yang sangat penting menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu orang-orang Eropa Kristen banyak menimba ilmu di perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi "guru" bagi Eropa. Banyak prestasi yang diperoleh Spanyol Islam, bahkan dunia kepada kemajuan yang lebih kompleks. Kemajuan-kemajuan tersebut dapat dilihat pada bidang-bidang sebagai berikut: kemajuan dalam bidang intelektual, filsafat, sains, musik dan kesenian, bahasa dan sastra, bahkan juga dalam bidang arsitektur. Kemajuan Eropa terus yang berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi pada khasanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pada periode klasik.
C.     Fungsi Madrasah dalam Mentranmisikan Ilmu Pengetahuan Agama
Ada semacam degree agreement bahwa madrasah dipandang sebagai lembaga yang khusus mentransmisikan ilmu-ilmu agama dengan memberikan penekanan khusus pada bidang fiqih, tafsir, dan hadits dan tidak memasukan ilmu-ilmu umum dalam kurikulumnya. Menurut Azyumardi Azra, hal ini disebabkan karena 3 alasan:
1.      Ini berkaitan dengan pandangan tentang ketinggian ilmu-ilmu keagamaan (al-'uluum ad-diniyyah) yang danggap mempunyai supremasi lebih dan merupakan jalan 'tol' menuju Tuhan.
2.      Secara institusi madrasah memang dikuasai oleh mereka yang ahli dalam bidang agama.
3.      Berkenaan dengan kenyataan bahwa hampir seluruh madrasah didirikan dan dipertahankan dengan dana wakaf dari penguasa politik Muslim atau dermawan karena didorong adanya motivasi kesalehan.
Madrasah dapat diterima di kalangan masyarakat banyak karena kurikulum yang terfokus pada bidang keagamaan, seperti pelajaran fiqih misalnya dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat diberikan pada anggota masyarakat dalam segala tingkatan umur. Di samping itu pula kerena pengajar madrasah adalah para ulama yang notebene merupakan panutan masyarakat serta pembela kepentingan mereka dan memiliki keududukan khusus dalam pemerintahan. Karena, dapat kita simpulkan bahwa madrasah memiliki fungsi dan peran yang besar dalam mentransmisikan ilmu pengetahuan Islam. Adapun jenis pentranmisiannya adalah sebagai berikut:
1.      Ilmu Pengetahuan yang Ditransminsikan Madrasah
Para ahli telah banyak melakukan penelitian tentang hal ini, bahwa ilmu-ilmu yang ditransmisikan oleh madrasah adalah; Al-Qur'an dan tafsirnya, hadits dan ilmu haditsnya, fiqih dan ushul fiqihnya, ilmu kalam dan bahasa Arab yang meliputi nahwu, sharaf, balaghah sebagai penunjangnya.

2.      Cara Madrasah Mentransmisikan Ilmu Pengetahuan Islam
Di antara madrasah yang cukup populer di masanya adalah madarasah Nizhamiyah. Bagaimana cara madrasah ini mentransmisikan ilmu pengetahuan Islam, yaitu dengan menyelenggarakan ujian. Namun pernanan guru masih sangat mendominasi oleh karena besarnya pengaruh guru secara individual. Misalnya, ijazah yang seharusnya dikeluarkan atas nama madrasah, tapi dikeluarkan atas nama guru. Namun demikian dalam hal ini tidak berarti bahwa madrasah tidak mempunyai fungsi strategi terhadap tansmisi ilmu.
Seperti pendapat Fazlur Rahman, bahwa mayoritas ulama termasyhur pada awal abad pertengahan bukan produk madrasah melainkan alumni murid-murid informal dari guru individual tidak dapat dibenarkan semuanya, sebab besar kemungkinan pengkajian disiplin ilmu yang dilakukan antara peserta didik dengan syaikhnya di luar jam pelajaran ini juga boleh jadi dimasukan ke dalam bagian kegiatan secara keseluruhan.
Adapun alur transmisi ilmu pengetahuan di madrasah secara umum dapat dibagi menjadi 2 bagian:
a.       Transmisi Lewat Lisan
Dunia pendidikan Islam zaman klasik berkeyakinan bahwa belajar kepada syaikh secara pribadi dan langsung mendengar uraian (bayan) dari syaikh tidak hanya membaca karya-karya tulisnya dianggap sebagai metode transmisi yang paling baik. Seorang murid tidak dianggap cukup hanya membaca teks karya gurunya sendiri. Metode ini dilaksanakan dengan cara guru membaca teks kemudian mensyarahnya dan murid mendengarkan dan menyimak dengan seksama.

b.      Transmisi Lewat Tulisan
Upaya transmisi lewat tulisan ini dilakukan karena pada masa itu harga kitab/buku sangat mahal, sehingga seorang murid yang berkeinginan memiliki sebuah buku/kitab maka tidak ada jalan lain kecuali ia harus menyalin dari kitab gurunya. Usaha keras ini menjadi alasan dan bukti akan adanya transmisi ilmu pengetahuan lewat tulisan.

D.    Peranan Ulama dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Islam
Lembaga pendidikan Islam mempunyai peranan yang sangat penting dalam transpormasi ilmu pengetahuan. Kegiatan intelektual dalam sejarah peradaban Islam merupakan mata rantai dari serangkaian perjalanan sejarah lembaga pendidikan Islam pada masa nabi dan khulafa'ur rosyidin dengan adanya syufah dan dilanjutkan pada masa Bani Umayyah dan mencapai puncak kejayaannya adalah pada masa Bani Abbasiyah yang ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan seperti madrasah Nidzamiyah dan Al-Azhar. Maka pengaruh ulama dalam mengembangkan tradisi keilmuan Islam tidak terlepas dari lembaga pendidikan tersebut.
Adapun di antara ulama yang memiliki peranan penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam, baik selama mendalami ilmu di lembaga madrasah maupun selama menjadi tenaga pengajar di lembaga tersebut adalah Al-Ghazali. Beliau merupakan alumni sekaligus sebagai salah satu tenaga pengajar pada madrasah Nidhamiyah. Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli fiqih, ahli sufi dan juga seorang negarawan. Ia tidak kurang menulis 400 buku besar dan risalah. Ia juga dikenal sebagai ilmuan Islam yang ensiklopedis. Banyak peneliti yang mengaitkan perkembangan keilmuan dengan peran yang dimainkannya, khususnya selama ia menjadi syaikh di madrasah tersebut.
Al-Ghazali berasal dari Tus Persia, setelah menyelesaikan pendidikan dasar di negerinya, ia menuntut ilmu di Jurjan pada syaikh Abu nasr Al-Islami. Setelah itu meneruskan pendidikannya ke Naisabur. Di sana ia menjadi pengikut tetap pengajian imam Al-Haramain Al-Juwaini yang menjadi syaikh madrasah Nizhamiyah. Ia menguasai berbagai cabang ilmu, seperti fiqih Syafi'I, perbandingan madzhab, debat, ushul fiqih, ushuluddin dan mantiq. Sementara itu, ia pun menulis buku-buku, di antara karyanya; Ihya Ulumuddin, Maqasid, dan Tahafatul Falasifah, al-Mustafz, al-Basit, al-Wasit serta Al-Wajiz. Walaupun sudah kurang luas peredarannya, tetapi sebagian besar fiqih yang menjadi buku daras atau ulama syafi'iyah sekarang adalah turunan dari kitab-kitab itu.




BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Keberadaan madrasah dalam pendidikan Islam turut mewarnai pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Hal ini terbukti dari banyaknya ilmu pengetahuan yang berkembang baik yang dikembangkang pada masa Dinasti Umayyah maupun Dinasti Abbasiyah.
Ada juga madrasah yang mengkhususkan diri mempelajari satu disiplin ilmu tertentu, misalnya madrasah nahwu, madrasah tafsir atau madrasah hadits yang pada gilirannya membawa perkembangan pada ilmu-ilmu tersebut. Dengan demikian madrasah merupakan media atau wadah pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Para alumnus yang dihasilkan madrasah turut pula menjadikan ilmu pengetahuan Islam berkembang. Mereka mengembangkan ilmu-ilmu tersebut dalam karirnya di berbagailembaga maupun kehidupan bermasyarakat.
B.     Saran
Mari sama-sama mengembangkan pendidikan agama islam baik secara lisan atau dakwah maupun dengan cara mendirikan sekolah-sekolah atau Madrasah.



 
DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada)
Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999)
http://www.tarbiyah-iainantasari.ac.id/artikel_detail.cfm?judul=159. diakses tanggal 25 Oktober 2011
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta: Logos, 1999), hal. 23
Deden Makbuloh, dalam Sejarah Sosial Peradaban Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005) hal. 53
Ahmad Syalabi, Sejarah Perkembangan Islam, (Jakarta: Bintang Bulan, 1973), hal. 111
Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, ibid,
Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Press, 1991) cet. I



Tidak ada komentar:

Posting Komentar