TUGAS
KELOMPOK DOSENPEMBIMBING
Sejarah
Pemikiran PAI Taufik Helmi, MA
FUNGSI MADRASAH DALAM MENGEMBANGKAN ILMU PENGETAHUAN ISLAM
DISUSUN OLEH :
LENI HERMAYENTI
KHOIRUZZAMAN
AINUDDIN
SRI MURNIATI
ELI SUTRA
SEMESTER IIIB
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) DINIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(PAI) TAHUN 2014 H/1436 H
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat dan karunia yang diberikannya
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah “Sejarah Pemikiran Pendidikan Agama Islam” ini.
Solawat dan salam kita sampaikan
kepada Muhammad SAW. Dan keluarga beliau. Semoga syafaatnya kita dapatkan di
yaumil akhir nanti. Amin
Penulis menyadari berbagai
kelemahan, kekurangan dan keterbatasan yang ada, sehingga mungkin ada
kekeliruan dan kekurangan dalam penyajian dan kekurangan Makalah ini. Oleh
karena itu, penulis dengan terbuka dan mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca. Semoga makalah ini bermanfaat bagi mahasiswa. Amin.
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR..........................................................................................................
BAB
1 PENDAHULUAN................................................................................................... 1
A.
Latar Belakang................................................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................................ 1
C.
Tujuan.............................................................................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN..................................................................................................... 2
A.
Pengertian........................................................................................................................ 2
B. Madrasah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam.................................................. 2
C. Funsi Madrasah Dalam Mentranmisikan Ilmu Pengetahuan
Agama............................... 4
D.
Peranan Ulama Dalam
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan Islam................................. 5
BAB
III PENUTUP.............................................................................................................. 7
A.
Kesimpulan...................................................................................................................... 7
B.
Saran................................................................................................................................ 7
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................... 8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Membicarakan pendidikan Islam tidak
akan pernah ada habisnya. Demikian, karena proses pendidikan Islam telah,
sedang dan akan terus berjalan mengikuti perkembangan zaman. Begitulah
pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang. Dalam pengertian yang
seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu
sendiri. Dalam sejarah masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali
berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan merupakan
transpormasi besar. Sebab pada dasarnya masyarakat Arab pra Islam tidak
mempunyai sistem pendidikan formal. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan
lebih bersifat informal, dan ini pun lebih berkaitan dengan upaya dakwah
islamiyah, penyebaran dan penanaman dasar kepercayaan dan ibadah lain.
Proses pembelajaran agama Islam pada
saat itu diselenggarakan di rumah-rumah sahabat tertentu dan yang paling
terkenal adalah Darul Arqam. Namun ketika masyarakat Islam telah terbentuk,
maka proses pembelajaran agama Islam diselenggarakan di masjid yang dikenal
dengan bentuk halaqah. Kebangkitan madrasah merupakan awal dari bentuk
perkembangan Islam secara formal.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang
dimaksud dengan Madrasah
2. Apa fungsi Madrasah
dalam mengembangkan ilmu pendidikan
C.
Tujuan
1. Menyelesaikan
tugas kelompok
2. Mengetahui
apa yang dimakdud dengan madrasah
3. Mengetahui
fungsi Madrasah dalam mengembangkan ilmu pendidikan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kata madrasah diambil dari akar kata
darasa yang berarti belajar. Madrasah adalah isim makan dari kata ini sehingga
berarti tempat untuk belajar. Istilah madrasah sering diidentikkan dengan
istilah sekolah atau semacam bentuk perguruan yang dijalankan oleh
sekelompok atau institusi umat Islam (Zaki Badawi, 1980:229). Kata “Madrasah”
berasal dari bahasa Arab sebagai keterangan tempat (dzaraf), dari akar kata :
“Darasa, Yadrusu, Darsan, dan Madrasatan”. Yang mempunyai arti “Tempat belajar
para pelajar” atau diartikan “jalan” (Thariq), misalnya : diartikan : “ini
jalan kenikmatan”. Sedangkan kata “Midras” diartikan “buku yang dipelajari”
atau “tempat belajar”. Dalam bahasa
Indonesia madrasah disebut dengan sekolah yang berarti bangunan atau
lembaga untuk belajar dan memberi pengajaran. Dari pengertian di atas
maka jelaslah bahwa madrasah adalah wadah atau tempat belajar ilmu-imu
keislaman dan ilmu pengetahuan keahlian lainnya yang berkembang pada
zamannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa istilah madrasah bersumber
dari Islam itu sendiri.
B.
Madrasah
dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam
1.
Madrasah
pada Masa Dinasti Umayyah di Spanyol
Kurikulum madrasah di masa klasik,
tidak banyak menawarkan mata pelajaran yang bermacam-macam. Dalam suatu jangka
waktu, pengajaran hanya menyajikan satu mata pelajaran yang harus ditempuh oleh
siswa. Sesudah materi tersebut selesai, baru diperbolehkan mempelajari materi
yang lain atau yang lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, pada tahap awal siswa
diharuskan belajar baca tulis, berikutnya ia belajar berhitung dan lain-lain.
Hal ini disebabkan karena belum adanya koordinasi antar lembaga-lembaga dengan
pemerintah seperti pada saat ini. Meskipun pada kasus tertentu penguasa turut
mengendalikan pelaksanaan pengajaran di madrasah-madrasah sedangkan proses
belajar mengajar sepenuhnya tergantung kepada guru yang memberikan pelajaran.
Spanyol adalah negeri yang subur.
Kesuburan itu mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi dan pada gilirannya
banyak menghasilkan pemikir. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat
majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan),
al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam yang
berasal dari Afrika Utara), al-Shaqalibah (penduduk daerah antara
Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual kepada
penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen Muzareb yang
berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran Islam. Semua
komunitas itu, kecuali yang terakhir, memberikan saham intelektual terhadap
terbentuknya lingkungan budaya Andalus yang melahirkan Kebangkitan Ilmiah,
sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
2.
Madrasah
pada Masa Dinasti Abbasiyah
Keadaan yang sama juga meliputi
pendidikan tinggi di wilayah Dinasti Abbasiyah. Sejarah mencatat bahwa kemajuan
Islam zaman klasik dalam keilmuan mencapai puncaknya pada zaman Dinasti
Abbasiyah khsususnya masa kekhalifahan Al-Ma'mun. Seluruh lembaga menawarkan
pendidikan univesitas dalam cakupan yang lebih luas, seperti bahasa Arab,
astronomi, kedokteran, hukum, logika, metafisika, aritmetika, pertanian dan
lain-lain. Namun seiring dengan berdirinya madrasah, perkembangan filsafat dan
ilmu pengetahuan mengalami penurunan ketika mu'tazilah yang semula menjadi
madzhab resmi negara dibatalkan oleh Mutawakkil. Ketika madrasah mulai berdiri,
ternyata perkembangan itu tidak menggunakan madrasah sebagai media tranmisi,
bahkan filsafat dan ilmu pengetahuan itu dipelajari secara individual dan
mungkin di bawah tanah, karena dikawatirkan mengganggu supremasi ilmu-ilmu
agama. Sehingga pada saat itu terdapat beberapa mudarris yang menawarkan
program studi khusus dan lain-lain. Kekhususan itu dapat dilihat dari nama
sekolahnya. Misalnya madrasah Nahwiyah, sebagai lembaga yang mengkhususkan diri
dalam studi Islam tentang gramatikal bahasa Arab. Atau ada juga madrasah
Qur'aniyah yang mengkhususkan pendidikan Al-Qur'an dengan saja.
Biasanya madrasah mempunyai
perpustakaan yang tergabung dalam bangunan yang sama, walaupun perpustakaan
telah lama terdapat di istana dan rumah-rumah bangsawan dan hartawan,
perpustakaan sebagai bagian dari madrasah adalah hal yang jarang. Untuk
menyediakan manuskrif bagi mahasiswa, madrasah mencontoh praktek halaqah-halaqah
gerakan nasional yang telah terpenuhi oleh budaya Hellenistik dan
berkembang pesat pada masa Dinasti Abbasiyah. Tersedianya berbagai karya bukan
hanya sekedar buku-buku pelajaran, meningkatkan belajar mahasiswa dengan
memperkenalkan mereka kepada bermacam-macam pandangan dan juga kepada sejumlah
tulisan tidak hanya sekedar kebutuhan langsung perkuliahan.
Madrasah yang didirikan Nizham
Al-Mulk merupakan salah satu penyebab perkembangan ilmu pengetahuan menjadi
begitu cepat. Abu Usamah menulis: "sekolah-sekolah Nizham Al-Mulk
termasyhur di dunia. Tidak ada satu negeri pun yang di situ tidak berdiri Nizham
Al-Mulk.
Demikianlah Nizhamiyah memberikan
perhatian yang besar terhadap ilmu aritmetika misalnya, sedangkan
madrasah-madrasah yang lain mengajarkan ilmu nahwu, tafsir, hadits, fiqh,
bahkan ada pula yang mengajarkan ilmu kedokteran. Walau pun memang secara umum
madrasah-madrasah mengajarkan ilmu keislaman. Seperti terlihat dari topik-topik
utama dalam kurikulum mereka mempelajari Al-Qur'an, fiqh, teologi dan
lain-lain.
Sebagaimana telah dipaparkan di
atas, bahwa Nizhamiyah mempunyai potensi untuk mengembangkan ilmu pengetahuan
dengan memperhatikan kepada pengajaran aritmetika, seperti juga terdapat di
madrasah Muntansyiriyah. Hal ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena
dahulu mereka tidak menyukai ilmu-ilmu seperti itu, tetapi pada gilirannya ternyata
ilmu tersebut mereka butuhkan. Bahkan, ditemukan sebuah masjid dan madrasah
yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan Yunani, misalnya masjid Mustansyiriyah
di Baghdad yang telah mengajarkan ilmu-ilmu murni, seperti obat-obatan, farmasi
dan geometri.
3.
Madrasah
Akhir Periode Klasik Islam
Ba'da berakhirnya periode klasik Islam,
ketika Islam mulai mengalami masa kemunduran, Eropa bangkit dari
keterbelakangannya. Kebangkitan ini bukan saja terlihat dalam bidang politik
dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia
lainnya, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan
kemajuan di bidang ilmu dan tekonologi itulah yang mendukung keberhasilan
politik Eropa. Kemajuan Eropa ini tidak dapat dipisahkan dari pemerintahan
Islam di Spanyol. Dari Spanyol itulah Eropa banyak menimba ilmu.
Pada periode klasik, ketika Islam
mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan peradaban Islam yang sangat
penting menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu orang-orang Eropa Kristen banyak
menimba ilmu di perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi "guru"
bagi Eropa. Banyak prestasi yang diperoleh Spanyol Islam, bahkan dunia kepada
kemajuan yang lebih kompleks. Kemajuan-kemajuan tersebut dapat dilihat pada
bidang-bidang sebagai berikut: kemajuan dalam bidang intelektual, filsafat,
sains, musik dan kesenian, bahasa dan sastra, bahkan juga dalam bidang
arsitektur. Kemajuan Eropa terus yang berkembang hingga saat ini banyak
berhutang budi pada khasanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pada
periode klasik.
C. Fungsi Madrasah dalam Mentranmisikan Ilmu
Pengetahuan Agama
Ada semacam degree agreement bahwa madrasah dipandang
sebagai lembaga yang khusus mentransmisikan ilmu-ilmu agama dengan memberikan
penekanan khusus pada bidang fiqih, tafsir, dan hadits dan tidak memasukan
ilmu-ilmu umum dalam kurikulumnya. Menurut Azyumardi Azra, hal ini disebabkan
karena 3 alasan:
1.
Ini
berkaitan dengan pandangan tentang ketinggian ilmu-ilmu keagamaan (al-'uluum
ad-diniyyah) yang danggap mempunyai supremasi lebih dan merupakan jalan
'tol' menuju Tuhan.
2.
Secara
institusi madrasah memang dikuasai oleh mereka yang ahli dalam bidang agama.
3.
Berkenaan
dengan kenyataan bahwa hampir seluruh madrasah didirikan dan dipertahankan
dengan dana wakaf dari penguasa politik Muslim atau dermawan karena didorong
adanya motivasi kesalehan.
Madrasah dapat diterima di kalangan masyarakat banyak karena
kurikulum yang terfokus pada bidang keagamaan, seperti pelajaran fiqih misalnya
dianggap dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan dapat diberikan pada anggota
masyarakat dalam segala tingkatan umur. Di samping itu pula kerena pengajar
madrasah adalah para ulama yang notebene merupakan panutan masyarakat serta
pembela kepentingan mereka dan memiliki keududukan khusus dalam pemerintahan. Karena,
dapat kita simpulkan bahwa madrasah memiliki fungsi dan peran yang besar dalam
mentransmisikan ilmu pengetahuan Islam. Adapun jenis pentranmisiannya adalah
sebagai berikut:
1. Ilmu Pengetahuan yang
Ditransminsikan Madrasah
Para
ahli telah banyak melakukan penelitian tentang hal ini, bahwa ilmu-ilmu yang
ditransmisikan oleh madrasah adalah; Al-Qur'an dan tafsirnya, hadits dan ilmu
haditsnya, fiqih dan ushul fiqihnya, ilmu kalam dan bahasa Arab yang meliputi
nahwu, sharaf, balaghah sebagai penunjangnya.
2. Cara Madrasah Mentransmisikan Ilmu
Pengetahuan Islam
Di
antara madrasah yang cukup populer di masanya adalah madarasah Nizhamiyah.
Bagaimana cara madrasah ini mentransmisikan ilmu pengetahuan Islam, yaitu
dengan menyelenggarakan ujian. Namun pernanan guru masih sangat mendominasi
oleh karena besarnya pengaruh guru secara individual. Misalnya, ijazah yang
seharusnya dikeluarkan atas nama madrasah, tapi dikeluarkan atas nama guru.
Namun demikian dalam hal ini tidak berarti bahwa madrasah tidak mempunyai
fungsi strategi terhadap tansmisi ilmu.
Seperti pendapat Fazlur Rahman, bahwa mayoritas ulama
termasyhur pada awal abad pertengahan bukan produk madrasah melainkan alumni
murid-murid informal dari guru individual tidak dapat dibenarkan semuanya,
sebab besar kemungkinan pengkajian disiplin ilmu yang dilakukan antara peserta
didik dengan syaikhnya di luar jam pelajaran ini juga boleh jadi dimasukan ke
dalam bagian kegiatan secara keseluruhan.
Adapun
alur transmisi ilmu pengetahuan di madrasah secara umum dapat dibagi menjadi 2
bagian:
a. Transmisi Lewat Lisan
Dunia
pendidikan Islam zaman klasik berkeyakinan bahwa belajar kepada syaikh secara
pribadi dan langsung mendengar uraian (bayan) dari syaikh tidak hanya membaca
karya-karya tulisnya dianggap sebagai metode transmisi yang paling baik.
Seorang murid tidak dianggap cukup hanya membaca teks karya gurunya sendiri.
Metode ini dilaksanakan dengan cara guru membaca teks kemudian mensyarahnya dan
murid mendengarkan dan menyimak dengan seksama.
b. Transmisi Lewat Tulisan
Upaya
transmisi lewat tulisan ini dilakukan karena pada masa itu harga kitab/buku
sangat mahal, sehingga seorang murid yang berkeinginan memiliki sebuah
buku/kitab maka tidak ada jalan lain kecuali ia harus menyalin dari kitab
gurunya. Usaha keras ini menjadi alasan dan bukti akan adanya transmisi ilmu
pengetahuan lewat tulisan.
D.
Peranan
Ulama dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan Islam
Lembaga pendidikan Islam mempunyai
peranan yang sangat penting dalam transpormasi ilmu pengetahuan. Kegiatan
intelektual dalam sejarah peradaban Islam merupakan mata rantai dari
serangkaian perjalanan sejarah lembaga pendidikan Islam pada masa nabi dan
khulafa'ur rosyidin dengan adanya syufah dan dilanjutkan pada masa Bani
Umayyah dan mencapai puncak kejayaannya adalah pada masa Bani Abbasiyah yang
ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan seperti madrasah Nidzamiyah dan
Al-Azhar. Maka pengaruh ulama dalam mengembangkan tradisi keilmuan Islam tidak
terlepas dari lembaga pendidikan tersebut.
Adapun di antara ulama yang memiliki
peranan penting dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Islam, baik selama
mendalami ilmu di lembaga madrasah maupun selama menjadi tenaga pengajar di
lembaga tersebut adalah Al-Ghazali. Beliau merupakan alumni sekaligus sebagai
salah satu tenaga pengajar pada madrasah Nidhamiyah. Ia dikenal sebagai seorang
filosof, ahli fiqih, ahli sufi dan juga seorang negarawan. Ia tidak kurang
menulis 400 buku besar dan risalah. Ia juga dikenal sebagai ilmuan Islam yang
ensiklopedis. Banyak peneliti yang mengaitkan perkembangan keilmuan dengan
peran yang dimainkannya, khususnya selama ia menjadi syaikh di madrasah
tersebut.
Al-Ghazali berasal dari Tus Persia,
setelah menyelesaikan pendidikan dasar di negerinya, ia menuntut ilmu di Jurjan
pada syaikh Abu nasr Al-Islami. Setelah itu meneruskan pendidikannya ke
Naisabur. Di sana ia menjadi pengikut tetap pengajian imam Al-Haramain
Al-Juwaini yang menjadi syaikh madrasah Nizhamiyah. Ia menguasai berbagai
cabang ilmu, seperti fiqih Syafi'I, perbandingan madzhab, debat, ushul fiqih,
ushuluddin dan mantiq. Sementara itu, ia pun menulis buku-buku, di antara
karyanya; Ihya Ulumuddin, Maqasid, dan Tahafatul Falasifah, al-Mustafz,
al-Basit, al-Wasit serta Al-Wajiz. Walaupun sudah kurang luas peredarannya,
tetapi sebagian besar fiqih yang menjadi buku daras atau ulama
syafi'iyah sekarang adalah turunan dari kitab-kitab itu.
BAB
II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keberadaan madrasah dalam pendidikan
Islam turut mewarnai pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Hal ini terbukti dari
banyaknya ilmu pengetahuan yang berkembang baik yang dikembangkang pada masa
Dinasti Umayyah maupun Dinasti Abbasiyah.
Ada juga madrasah yang mengkhususkan
diri mempelajari satu disiplin ilmu tertentu, misalnya madrasah nahwu, madrasah
tafsir atau madrasah hadits yang pada gilirannya membawa perkembangan pada
ilmu-ilmu tersebut. Dengan demikian madrasah merupakan media atau wadah
pengembangan ilmu pengetahuan Islam. Para alumnus yang dihasilkan madrasah
turut pula menjadikan ilmu pengetahuan Islam berkembang. Mereka mengembangkan
ilmu-ilmu tersebut dalam karirnya di berbagailembaga maupun kehidupan
bermasyarakat.
B. Saran
Mari sama-sama mengembangkan
pendidikan agama islam baik secara lisan atau dakwah maupun dengan cara
mendirikan sekolah-sekolah atau Madrasah.
DAFTAR
PUSTAKA
Abudin
Nata, Sejarah Pendidikan Islam, Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada)
Maksum,
Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1999)
http://www.tarbiyah-iainantasari.ac.id/artikel_detail.cfm?judul=159.
diakses tanggal 25 Oktober 2011
Azyumardi
Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, (Jakarta:
Logos, 1999), hal. 23
Deden
Makbuloh, dalam Sejarah Sosial Peradaban Islam, (Jakarta: Prenada Media,
2005) hal. 53
Ahmad
Syalabi, Sejarah Perkembangan Islam, (Jakarta: Bintang Bulan, 1973),
hal. 111
Abudin
Nata, Sejarah Pendidikan Islam, ibid,
Badri
Yatim,Sejarah Peradaban Islam, Dirasah
Islamiyah II, (Jakarta: Rajawali Press, 1991) cet. I




